Selasa, 05 Juli 2011

run on rain of july

rain ... rain ... rain ...




run ... run ... run

... i will run on rain of july ...


**

Selasa, 21 Juni 2011

Suatu Hari Tanpa Hati

perbincangan yang gamang
menggantung begitu saja
mengapung di udara
di atas kepala/

lalu musim hujan gulung gemulung menyerang,
dan berlalu begitu saja,
tanpa kata/

sesekali matahari yang seperti kalah, mengintip
di sela-sela kabut,
menangis//


Lahat, 21 Juni 2011
pk.12.57

Senin, 13 Juni 2011

Hujan, Sayap dan Bunga Berwarna Kelabu Suatu Hari


HUJAN, SAYAP DAN BUNGA BERWARNA KELABU SUATU HARI

hujan seperti berlari suatu hari/
mengejar pucuk-pucuk pohon menari/
sayap berguguran suatu hari/
tergolek merintih hendak mati/

bunga berwarna kelabu suatu hari/
menangisi hujan dan sayap berganti//

Lahat, 9 Juni 2011
pk.23.59 

***

Karena saking mendayu-dayunya malam itu, saya spontan membuat lagu sederhana dari puisi Hujan, Sayap dan Bunga Berwarna Kelabu Suatu Hari seketika setelah selesai menulis puisinya. Hiks2, sangat berdarah-darah rasanya ... tapi dalam hati tercengang-cengang karna saya create it by myself ...
Lalu dengan meminjam talenta, tangan, seperangkat mulut lengkap dengan gigi dracula punya Lutus, akhirnya, jreng jreng jreng ... dan setelah take vocal berkali-kali [masalahnya pemilik gigi dracula itu grogi ndenger suara sendiri, hihihiii ...] dari minggu siang sampe sore-di sekotak ruang pengap&panas-diiringi kicau kacau burung-burung..., jadilah lagu itu.
Lets hear it on : 
Hujan, Sayap dan Bunga Berwarna Kelabu Suatu Hari 

Oia, si gigi dracula itu juga mengiringi suara pas-pasan saya untuk lagu Ya NamaMu Maria. Agak wagu sii karna nge-pop banget ... Hmm, but i like it so much ... Hear it too on :
Ya NamaMu Maria


Ya NamaMu Maria, bunda yang ku cinta ....
merdu menawan hati, segala anakmu
patutlah nama itu hidup di batinku
dan pasti ku ucapkan di saat ajalku ...

Ya nama yang keramat, perisai hidupku ...
dengan nama Maria, aku pasti menang
patutlah nama itu hidup di batinku
dan pasti ku ucapkan di saat ajalku ...


[makasii ya Lutus ...]

Jumat, 27 Mei 2011

breakfast

Lama tak menulis !!! uffF ...
Baiklah, sepertinya sekarang waktu yang tepat untuk sedikit berenang-renang di siang hari. Tadi pagi sebelum berangkat kerja, sambil menikmati segelas susu non fat dan beberapa keping sereal, aku 'have a breakfast' yang sebenarnya ...
Satu buku dari Anthony de Mello, yang sbenernya belum kuselesaikan, ku buka-buka lagi. Dan aku menemukan ini [lagi]:

Seorang lelaki pada suatu hari menemukan sebuah telur burung rajawali dan dia meletakkan telur itu bersama dengan telur-telur ayam di sarang seekor induk ayam peliharaan yang sedang mengeram. Telur itu menetas bersama telur ayam yang lain, dan anak burung itu tumbuh bersama anak-anak ayam, diasuh oleh induk ayam itu.
Selama hidupnya burung rajawali itu bertingkah laku sama seperti ayam, dan menganggap dirinya ayam peliharaan. Dia mengais tanah untuk mencari cacing dan serangga. Dia berkotek dan berkokok. Dia akan mengepak-ngepakkan sayapnya dan terbang beberapa meter di udara.
Tahun berlalu dan burung rajawali itu menjadi tua. Suatu hari dia melihat seekor burung yang sangat tangguh terbang di angkasa yang tak berawan. Burung itu melayang dengan anggun dan berwibawa dalam hembusan angin yang kuat, dia hanya membentangkan sayapnya dan jarang sekali menggerakkan sayapnya itu.
Rajawali tua itu terpesona memandang ke atas. "Siapakah itu?" tanyannya.
"Itu adalah burung rajawali, raja dari segala burung," kata ayam yang ada di dekatnya. "Dia penghuni langit, dan kita penghuni bumi, kita adalah ayam." Demikianlah rajawali tua itu hidup terus dan mati sebagai seekor ayam, karena begitulah anggapannya tentang dirinya.

Hmm, sungguh inspiratif ...

Selasa, 19 April 2011

BIMBANG


seperti berada di persimpangan/lalu bagaimana/
bagaimana bisa menentukan bahwa tuhan campur tangan/
apa mungkin bisa mencintai tanpa sakit hati/


Lahat, 19 April 2011
pk. 09.23 WIB

Senin, 11 April 2011

Resensi Buku Kumpulan Puisi Ibukota Serigala oleh Ragil Koentjorodjati

SELAMAT DATANG DI IBUKOTA SERIGALA

Ledakan ekspresi kebebasan, itulah yang ingin saya sampaikan untuk sebuah buku kumpulan puisi Ibukota Serigala. Ada marah yang tertahan. Ada sedih yang tertindih. Ada duka yang terlupa. Kejahatan tersembunyi yang terus menerus menjangkiti sendi-sendi kehidupan. Basa basi busuk. Semua tersimpul dalam dua kata sederhana: kekerasan psikologis! Jika dada tidak mampu lagi menahan luka, maka puisi menyuarakan yang tak berbunyi. Bagi Maria Immaculata Ita, semua rentetan kejahatan psikis tersebut terangkai menjadi sesuatu yang indah sekaligus ironis dalam Ibukota Serigala sebagaimana dapat kita simak pada penggalan bait puisinya;
: ingatkan aku untuk selalu mengucapkan salam saat memasuki pintu gerbangnya, wahai maria sofia
ingatkan aku untuk selalu membantu mengelap keringat wanita-wanita berantena,
ingatkan aku untuk mengamini ajakannya berdisko ria,
lalu kita akan tertawa bersama karena ternyata kita amnesia/

Tidak dapat dipungkiri bahwa karya penyair muda kelahiran 6 Oktober 1985 ini sarat dengan aroma kebosanan pada status quo generasi tua. Satu dari sekian banyak anak muda yang berani menyuarakan bahwa tua belum tentu dewasa, lama belum tentu baik, berkuasa belum tentu bijak. Kemapanan yang diterima sebagai sesuatu yang benar karena banyak orang mengamininya, itulah yang ingin didobrak. Menjadi sesuatu yang sangat masuk akal jika fenomena sekitar kita menunjukkan tingginya berbagai bentuk pemberontakan kaum muda. Inilah suara hati mereka:

Litani Sakit Hati
lama terdiam,
akhirnya ego kami melawan/
lama dibungkam,
akhirnya ego kami menyerang/
lama menangis,
membuat mata kami bengis/
lama menurut,
membuat ego kami menuntut/
lama ditirani,
membuat ego kami berani/
lama sendiri,
membuat kami tak perduli/
lama ditipu,
membuat kami berlalu/
lama merenung,
membuat kami susah tersenyum/
lama disakiti,
membuat kami sakit hati/

Selain puisi-puisi tersebut, Ibukota Serigala menyajikan 66 puisi yang sangat spontan dan cenderung impulsive. Sesuatu yang memikat sekaligus membutuhkan pencernaan yang baik di otak pembaca. Cerminan kegilaan yang memukau dari sang penulis di tengah badai hedonisme yang menggila. Sangat Layak dibaca. Proficiat! Selamat Datang di Ibukota Serigala.
Judul Buku : Ibukota Serigala
Penulis : Maria Immaculata Ita
Penerbit : Greentea
Cetakan : I, 2010
Tebal : xv + 110 halaman

Kamis, 07 April 2011

tears-day

this is all about tears and broken heart's day ...
Oo, so sad ...